Monday, July 26, 2010

that magic box called TV

kemarin bisa dibilang seharian cuma di rumah, karena memang nggak ada planning kemana (yaaa… walaupun biasanya sih spontan melanglang kemana-mana ^0^), dan juga hujan turun sejak pagi (bikin betah di rumah). buat mengisinya: komik yang minjem udah dilahap habis, ada beberapa buku yang masuk daftar to-read (tapi lagi enggak mood), bikin kopi, makan, ngemil, dll, so akhirnya memutuskan menonton tv. dan ternyata itu bisa bertahan sampai malam!
dan aku tahu bahwa bukan hanya aku saja yang terserap dengan kotak ajaib ini. banyak sekali “coach potato” di penjuru dunia ini. memang televisi bisa sangat menghibur dan memberikan banyak sekali “keajaiban”, tapi kalau dipandang dari sudut lainnya, banyak sekali efek sampingnya (mungkin bisa diurutkan dari lupa waktu, lupa makan, lupa mandi, dll sampai topik lebih berat kejahatan teknologi, invasi budaya lain yang mengikis budaya asli, dkk).
pemikiran dan kesadaran ini membawaku pada sebuah artikel yang baru saja selesai kuterjemahin (sebenarnya sih job terjemahan handout materi s2). yaitu tentang media dan pengaruhnya, terutama studi kasus pengaruh televisi bagi masyarakat pedesaan di India bagian selatan. dari artikel ini bisa dibaca tentang manfaat dan efek samping masuknya teknologi ini ke desa-desa.
dari satu sisi, program-program di televisi bisa bermanfaat bagi para penduduk dari segi ekonomi - khususnya tentang bertani yang merupakan mata pencaharian mereka - tentang bagaimana bercocok tanam yang baik, pupuk, bibit, dll (dimana informasi seperti ini biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang berpengaruh di desa yang memiliki hubungan dekat dengan petugas pertanian).
dari segi sosial (hubungan sosial), dengan adanya televisi, meskipun baru ada beberapa (satu) penduduk yang bisa membelinya, sehingga membuat banyak para tetangga lainnya berkumpul di suatu rumah yang memiliki televisi, dimana dari sini bisa tercipta hubungan baru, bisa mempererat hubungan bahkan menaikkan tingkat kehidupan (koneksi).
manfaat lainnya juga terkait dengan pendidikan (belajar bahasa inggris, contohnya), pengetahuan tentang hukum (bukan hanya bergantung kepada petugas desa tapi sudah melek hukum seperti pergi ke pengadilan, berani menggugat, dll), beragamnya budaya dari berbagai daerah bahkan negara lain (misal, pernikahan berdasarkan cinta, bukan berdasarkan perjodohan, seks bebas, dll) dan juga dunia hiburan, serta gaya hidup dan fashion (ini yang sangat menyolok diamati).
dari sudut pandang yang lain, khususnya dipandang oleh kaum tua dan mereka yang termasuk dalam golongan orang miskin atau dari kasta terendah, televisi membawa hal negatif bagi mereka, terutama bagi kaum muda. para orang tua beranggapan bahwa televisi telah membuat generasi muda menjadi “malas” - ini terbukti dari banyak generasi muda yang sudah tidak mau lagi menjadi petani dan memilih bekerja ke kota dikarenakan ke-glamor-an yang ditawarkan gaya hidup orang kota (urbanisasi) - seperti yang banyak diperlihatkan di TV; menjadi “tamak” - menginginkan semua hal yang mereka lihat di TV (dari gaya berpakaian, gaya bicara, barang-barang dari iklan, teknologi, dll); dan menjadi “tidak menghormati orang tua” - karena informasi dan pengetahuan terbaru dan termodern yang mereka dapat dari televisi, yang tentu saja sangat berbeda dari yang dimiliki para kaum tua, bahkan berani berdebat atau membantah.
untuk hubungan sosial, bagi mereka yang berasal dari golongan kasta rendah, televisi membuat mereka semakin terasing, karena mereka tidak diperbolehkan pergi menonton di rumah para tetangga yang lebih tinggi derajatnya. sehingga dari ini menimbulkan gap di antara para penduduk desa - gap informasi dan gap hubungan.
apalagi sekarang, TV sudah menjadi alat yang sangat ampuh baik untuk kepentingan bisnis (yang juga mendorong budaya konsumerisme ataupun hedonisme), hiburan (hobi dan plesir), informasi (berita, gosip, infotainment?) bahkan propaganda politik.
tapi, banyak juga orang yang menganggap televisi itu tidak baik - dipandang dari segi waktu konsumsinya maupun muatan programnya - yang ada yang baik tapi ada juga yang menganggapnya sampah bahkan “bad influence”, terutama bagi anak-anak.
selalu dua-sisi.  apalagi dalam hal teknologi seperti ini.
hmm…kenapa jadi serius gini perkembangannya ya, hehehe. jadi inget willy wonka yang beryanyi tentang “turn off your television”, khususnya buat anak-anak.


Bookmark and Share

pelangi setelah hujan

menyedihkan … itulah satu kata yang bisa menggambarkan keadaanku sekarang. ya, menyedihkan! menangis sendirian di kantor dalam diam karena takut akan ada yang mendengar. tanpa suara hanya air mata yang berjatuhan membasahi. teringat kisah cintaku yang kandas, padahal sudah lama terjalin, dan bahkan cincin tunangan sudah melingkar di jari manisku. tapi dengan mudahnya dia memutuskan hubungan karena telah ada wanita lain di hatinya - yang lebih mengejutkan atau menyakitkan, atau kedua-duanya - telah mengandung benih anaknya!
langsung membatu mendengarnya.
apa karena aku termasuk orang yang konvensional, yang berketetapan hati bahwa aku akan menjaga diriku - semua yang kumiliki sebagai seorang gadis - sampai aku menikah nantinya. menyerahkan hanya kepada suamiku kelak. apa karena itu? sehingga membuatmu tidak bisa menungguku? padahal aku begitu mencintaimu …
aku jadi bertanya-tanya apa makna cincin yang tersemat di jari manisku, tanda ikatan yang kauberikan, pernyataan perasaanmu. apa rasa itu masih kaumiliki saat kamu bersamanya - saat kamu melakukannya, dengannya!
dengan perasaan benci dan marah segera kulepas cincin pemberianmu itu. dan didorong oleh emosi, kulempar, kubuang keluar. hanya kilaunya yang kulihat sebelum benda itu hilang ditelan hujan deras di luar.
hari sudah sore, banyak kulihat orang berjalan dalam hujan, di bawah payung atau jas hujan mereka, bergegas pulang dari kantor, dari kerja, dari aktivitas mereka.
kubereskan mejaku, kuambil tas dan payungku, lalu keluar dari gedung pencakar langit tempatku bekerja, berbaur dengan orang-orang di jalan, di trotoar. berada di bawah hujan.
tapi, tiba-tiba seeorang yang berlari tanpa sengaja menabrakku sehingga payungku terjatuh. orang tersebut bahkan tidak membuang waktu untuk minta maaf karena dia harus segera menyelamatkan diri dari guyuran air hujan.
air hujan terasa dingin. aku benar-benar ingin menangis lagi dibuatnya. tiba-tiba teringat kata-kata tentang hujan: “i don’t mind walking in the rain ‘coz no one can see me crying”. seseorang mengambilkan payungku yang jatuh. aku meneruskan jalanku.
“lihat, pelangi!” seru seseorang, membuatku dan juga orang-orang di sekitarku yang memang sedang menunggu bis, mendongak serempak ke arah yang ditunjuknya.
dan benar, walaupun samar, jauh dan lengkungnya agak terputus oleh gedung-gedung tinggi beserta pepohonan, pelagi telah muncul. benar-benar pemandangan yang sudah jarang terlihat, sudah terlupakan bahkan, mungkin.
terus kutatap lukisan alam penuh warna tersebut. merasa terpukau. merasa terhibur. dan sadar bahwa pemandangan seindah itu bisa nampak setelah hujan yang sangat deras sekalipun. entah kenapa - seperti mendapat pencerahan - sekarang aku tidak terlalu merasa menyedihkan.
aku merasa agak lebih beruntung. apalagi kalau melihat di sekelilingku, contohny saja dari anak laki-laki yang terlihat basah kuyup dan kedinginan karena harus menjajakan jasa payungnya, dari seorang gelandangan sekaligus pengemis yang meringkuk di trotoar mencari tempat kering untuk tidur, atau bahkan mungkin lebih beruntung dari perempuan yang telah merebutnya dariku. karena mungkin saja dia tidak mau atau belum siap untuk hamil dan menjadi ibu? mungkin saja …
satu yang kusesalkan, kenapa tadi cincinnya kubuang, ya? seharusnya bisa kuberikan pada anak kecil ojek payung atau gelandangan tadi. siapa tahu lebih berguna.


Bookmark and Share

Kapan ayah pulang?



“Bu, kapan ayah pulang?” tanya adikku, entah sudah yang ke-berapa-kalinya. Kudengar ibuku hanya menghela napas lalu membisikkan kata-kata lembut kepada putri bungsunya itu. Ibu merasa sama tidak tahu dan juga kecemasan sudah melandanya sekarang. Sehingga hanya tinggal sedikit asa untuk menenangkan adikku, karena untuk menghiubur hatinya sendiripun sudah cukup sulit dan berat.
Aku menoleh ke luar jendela. Hanya gelapnya malam dan guyuran air hujan yang terlihat di sana. Sesekali guntur terdengar seperti dari tempat yang dekat. Udara terasa menggigit, apalagi di rumah kami yang kecil ini. Kami sekeluarga – kecuali ayahku, tentu saja – berkumpul di meja makan yang juga merangkap ruang tamu dan tempat kami belajar. Kulihat kakakku – abangku – sudah meringkuk dan tertidur di kursinya, dengan kepala di meja. Dia memang tipe orang yang bisa tidur dimanapun dan kapanpun. Adikku sedari tadi lebih memilih duduk di pangkuan ibu yang hangat dan nyaman. Dia masih berumur 5 tahun. Ibu, kuperhatikan dengan ekor mataku, cuma menatap cangkir berisi kopi yang selalu disediakan untuk ayah setiap kali ia pulang dari berjualan keliling. Kopi itu sudah dingin sekarang. Kami – anaknya – selalu berebut meminum kopi ayah, tapi tentu saja setelah ayah meminumnya terlebih dulu.
Sementara itu aku, setelah selesai mengerjakan pe-er matematika (biasanya juga ayah yang membantuku, kadang terlalu lama mengutak-atik soal-soal matematikaku, sampai aku tertidur menunggu jawabannya), cuma bisa berdiri di dekat jendela. Memandang gelapnya malam, derasnya hujan dan juga jalan kecil menuju rumah kami. Siapa tahu aku bisa melihat motor tua ayah dengan ayah di atasnya, datang.
Seharusnya ayah sudah harus ada di rumah sejak 3 jam yang lalu. Namun sampai sekarang kami semua menunggu, sama sekali tidak tenang dan bertanya-tanya – dalam hati – karena takut dengan melontarkan pikiran buruk kami sendiri. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ibu, tapi yang jelas ada gurat rasa cemas di wajah dan juga matanya. Ibu selalu mengingatkan kami untuk berdoa supaya ayah tidak apa-apa dan selamat sampai di rumah. Aku bersungguh-sungguh mematuhinya dan berdoa dalam hati.
“Jangan-jangan ayah mengalami kecelakaan …” kataku tanpa sadar, akhirnya tak tahan. Teringat kejadian samar-samar, dulu, ayahku yang mengalami kecelakaan kecil dengan sepeda motornya di jalan.
“Hus!” respon ibu dengan cepat. Mungkin terkejut dengan ucapanku yang sama persis dengan apa yang sedang dipikirkan dan dikhawatirkannya. “Jangan berkata seperti itu, tabu!” tambahnya dengan nada memperingatkan. Ibuku pernah berkata bahwa kadang apa yang kita ucapkan – baik itu saat sedih ataupun marah, sengaja maupun tak sengaja – bisa menjadi kenyataan. Seperti doa.
Aku terkesiap mendengar hardikan ibu, merasa bersalah dan ingin menangis jadinya. Ya… mungkin kalau lebih besar pasti aku tahu bahwa ibu sedang menahan beban berat, menenangkan ketiga anaknya dan juga untuk meredakan ketidaktenangan hati dan pikirannya sendiri, mencemaskan suaminya.
Walaupun baru kelas 3 SD aku tahu bahwa ayah dan ibu telah berjuang terlalu keras. Aku banyak melihat dan mendengar. Mungkin juga aku terlalu perasa, apalagi jika dibandingkan dengan abang dan adikku. Kehidupan kami bisa dibilang menderita. Dan ayah adalah tulang punggung kami. Berusaha terlalu keras melebihi kemampuannya. Ingin memperlihatkan bahwa dia mampu menghidupi istri dan anak-anaknya.
Dari kecil kami, anak-anaknya, telah sering mendengar cerita sedih tentang perkawinan ayah dan ibu yang tidak setujui, terutama oleh keluarga ibu. Bahkan kami adalah cucu-cucu yang tidak diakui. Itulah sebabnya ayah berjuang terlampau keras. Terkadang tanpa sadar menularkan kebencian atas perilaku yang diterimanya. Dan mungkin ayah dan ibu tidak tahu bahwa cerita sedih tersebut telah terlalu merasuk ke dalam pemikiran kanak-kanakku. Berdiam diri di sana seperti kanker ganas yang tidak akan pernah hilang. Yang akan selalu menghantui dan menggerogotiku. Apalagi dipupuk dengan kenyataan penderitaan, tangis, rasa marah, dendam, pertengkaran dan kekeraskepalaan yang kulihat, kudengar dan kurasakan dari waktu ke waktu.
Aku sudah mulai merasa lelah dan mengantuk. Memutuskan untuk mengikuti jejak abangku. Sebenarnya aku masih sangat ingin menunggu ayah. Tapi mata mungilku tidak mau menuruti perintahku. Dan samar-samar aku mendengar ibu menidurkan adikku di kamar. Lalu tak lama kemudian aku mendengar ketukan atau gedoran di pintu depan? Dan sebelum kesadaranku benar-benar hilang aku melihat ibu dengan tergesa-gesa membuka pintu, dan di sana berdiri sesosok pak polisi. Dan seperti dari tempat yang sangat jauh dan bergema aku mendengarnya berkata: “Maaf, nyonya, suami anda mengalami kecelakaan …”.  


  
Bookmark and Share

Sunday, July 25, 2010

vicious chain phenomenon

hari ini ada satu kejadian yang membuatku merasa tidak enak ati … lumayan memikirkannya. ceritanya tadi sedang tutoring seperti biasa di rumah salah satu murid (cieee murid… sini bu guru dong ^^), yang notabenere adalah seorang dari amerika serikat alias bule. nah pas asyik-asyiknya ngebahas tentang kebudayaan hindu… datang seorang laki-laki setengah baya sampai ke pintu. dikira tukang gas atau dari petugas listrik. tak taunya orang jualan sticker salah satu klub sepakbola terkenal di semarang (enggak tau juga apa itu sticker official a.k.a resmi dari klub tersebut atau tidak) - seperti kebanyakan penjual sticker lainnya untuk demam berdarah, dkk. sebenarnya si empunya rumah sudah ga mau beli (simpel…dia sama sekali tidak tahu tentang bola, apalagi klub tersebut!), nah karena berbaik hati dia membelinya. dia bertanya padaku berapa biasanya harganya. aku jawab setahuku (dan jumlah yang biasanya kubayarkan untuk sticker2 seperti itu), yaitu 1000 (seribu) perak. tapi si bapak penjual sticker meminta lebih (aku enggak tau apa emang jumlah tersebut kurang atau karena yang dihadapinya adalah orang bule). bapak penjual tersebut pergi dengan muka dan pandangan marah ke arahku (mungkin dalam pikirannya aku sesama sebangsa dan setanah air tapi kok sama sekali enggak membantunya).
aku nggak ngerti. apa aku salah? karena aku juga bakalan bayar dengan jumlah yang sama. bahkan sebenarnya aku juga enggak mau bayar, tapi kadang mereka memaksa. entahlah … aku merasa tidak enak ati … apa ya tepatnya …merasa malu sekaligus kasihan …dongkol juga. tidak tau bagaimana menjelaskan fenomena tersebut. fenomena penjual sticker, pengamen, pengemis, dan masih banyak lainnya.
kami berdua mulai berbicara tentang fenomena tersebut - ceritanya membanding-bandingkan dengan negara lain - bagaimana pendapat kami tentang pengamen dari rumah ke rumah atau pengamen pada umumnya. nah tak lama kemudian seorang pengamen datang!
hmm… aku juga inget kejadian yang nggak ngenakin juga…dulu waktu zamannya ikutan jadi guide sementara. ceritanya waktu itu di borobudur. pasti sudah pada melihat para penjual souvernir yang langsung menyerbu kita. apalagi para turis asing. ada seorang penjual souvenir (kalau tidak salah seorang ibu-ibu) dia mengata-ngataiku dengan ucapan keras yang membuatku merasa “deg” di jantungku (apalagi aku lumayan baru dalam bidang tourism guide). dia berkata bahwa seharusnya aku diam saja (tidak usah memberitahu turisnya - biar para penjual merayu mereka untuk membeli). padahal aku sama sekali tidak melarang para turis untuk membeli. hanya saja mereka sudah tahu sendiri (karena mereka sering bepergian kemanapun) dan memang mereka tidak mau membeli.
hiks …rasanya nggak ngenakin banget. dibenci dan dikata-katai saudara sebangsa dan setanah air padahal maksudku bukan begitu.

Bookmark and Share

let’s dance, life

Sejak kecil – semenjak bisa mengingat – aku suka berlari kecil dengan kakiku melompat-lompat dalam gerakan kecil berputar-putar mengikuti irama alam yang kudengar dari angin. Tapi ibuku tidak suka.
Aku sebal dengan ibu. Selalu saja aku yang disalahkan. Selalu aku yang dimarahi. Selalu aku yang dianggap berbohong, biang keladi dan pembuat masalah.
Seperti hari ini, ibu sudah marah-marah tentang perbuatan yang sama sekali tidak kulakukan. Selalu kalau ada yang tidak beres di rumah, aku yang dituding.
Entah sejak kapan semua ini terus berlangsung. Sepanjang ingatanku ini berawal ketika aku berumur 7 tahun dan adikku berumur 6 tahun – yah … kami kami cuma selisih satu tahun saja. Waktu itu kami bermain di sekitar kampung kami yang terletak di dekat sungai besar – dengan air berwarna krem atau coklat muda?. Ibu selalu mengingatkan supaya kami tidak bermain di dekat sungai. Tapi adikku yang ingin mengejar kupu-kupu – yang jarang sekali kami lihat di kawasan kampung kami – membawa kami ke sungai. Mungkin kupu-kupu itu haus atau hanya ingin mengerjai adikku, dimana dia terbang membawa kami ke pinggir sungai. Seperti halnya anak-anak lainnya, karena saking senangnya, tidak memperhatikan sekitarnya. Adikku terjatuh ke dalam air! Tangan mungilku tidak bisa menggapai tangannya. Untungnya ada seorang dewasa yang melihat dan segera menolong.
Aku ingat sekali muka ibu yang sangat pucat dan hampir pingsan ketika tahu bahwa anaknya hampir tenggelam atau bahkan terbawa arus. Aku melihat kondisi adikku yang sangat lemah – juga hampir pingsan – dan basah kuyup. Maka ketika ditanya, aku langsung berbohong – yang menurutku demi kebaikan kami berdua atau adikku, melindungi seperti yang sudah sering kulakukan selama ini – bahwa aku yang membawa adikku ke sungai. Tapi ternyata aku salah, ibu sangat marah! Kepadaku! Dikarenakan kejadian itu ibu mungkin sudah tidak percaya lagi denganku.
Sejak itu – entah terasa atau tidak, kurasakan atau tidak, terlihat jelas atau tidak – ada sedikit perbedaan perlakuan ibu yang diberikan antara aku dan adikku. Pikiran kanak-kanakku kadang merasa iri dengan perhatian lebih, kasih sayang lebih, sikap lembut yang diberikan khusus untuk adikku. Ayahku? Yah…dia terlalu sibuk mencari uang untuk makan dan hidup, apalagi dengan dua anak perempuan yang sudah bersekolah. Sementara dia cuma seorang sopir metro mini.
Dan sejak itu pula aku mulai sering mendengar kata-kata pembandingan yang diucapkan ibuku. Kata-kata yang tidak kentara kadang, tapi kadang secara langsung, yang membanding-bandingkan aku dengan adikku. Adikku yang manis, pintar dan rajin. Padahal aku merasa (atau pikiranku saja?) bahwa aku juga melakukan – berusaha melakukan – hal yang sama. Supaya menjadi dianggap manis, pintar dan rajin atau tidak merepotkan. Tapi semua usahaku sia-sia. Bahkan rangking kelas atau piala hasil perlombaan sekolah yang kudapat sama sekali tidak bisa membuat ibuku memberikan kata pujian sepatah-pun.
Sampailah kami – aku dan adikku – pada masa puber, masa remaja, yang kata orang penuh dengan hal-hal yang membahagiakan, cinta! Itu juga terjadi pada adikku yang mulai menjalin hubungan alias pacaran dengan teman sekolahnya. Aku? Hmmm… mungkin aku belum merasa tertarik dengan masalah tersebut karena ada hal lain yang lebih menyita perhatianku, menari!
Aku mengenal menari setelah bertemu dengan seorang perempuan seumuran ibuku –dia cantik dan sangat berbeda sekali dengan ibuku. Padma, dia menyuruhku memanggilnya, tanpa embel-embel yang lain. Padma tinggal di dekat sekolahku. Aku selalu melewati rumahnya saat berjalan berangkat-pulang. Rumahnya besar dan aneh (menurutku) dengan sebuah ruangan aneh tanpa dinding yang disebut pendopo. Di sana Padma melatih banyak anak ataupun kakak-kakak perempuan menari. Tari tradisional dari tempat dia berasal. Tapi setelah mengenal lebih dalam, dia berkata bahwa dia lebih suka menari sesukanya, dia bilang, kalau aku tidak salah, tari kontemporer.
Pertama, aku hanya suka melihat saja atau mendengarkan musik tarian-tarian yang dipelajari. Lama-kelamaan aku merasakan bahwa tubuhku juga ingin bergerak seperti Padma dan kakak-kakak lainnya. Maka, dari jauh, dengan diam-diam, aku mulai menirukan gerakan-gerakan mereka. Dan entah kenapa aku merasa damai dan nyaman, atau bahkan bebas! Ketika menari aku merasa bahwa aku berada di duniaku sendiri, dimana semua masalah menjauh dan semakin menghilang, semua perasaan gundah, semua perasaan bahwa aku tidak berguna, semua perasaan mendamba kasih sayang ibuku … Aku merasa sedikit lebih bahagia …
Sering, sepulang sekolah aku menyelinap masuk ke rumah Padma, dia hanya menoleh saat melihatku, tapi tidak berkata apa-apa (atua bahkan mengusirku) dan sibuk dengan tariannya. Saat tahu bahwa aku sering diam-diam menirukan mereka, Padma memintaku untuk datang setiap hari dan menjadi serius. Bahkan dia melatihku secara tersendiri – dimana aku tidak harus membayar seperti muridnya yang lain. Dan dalam hati aku menganggapnya sebagai seorang ibu …
Dari ayah, tanpa sengaja aku mendengar bahwa dulu ibuku juga seorang penari, tapi berhenti setelah menikah, apalagi melahirkan aku. Aku sangat tidak percaya mendengarnya. Ibu? Ibuku itu? Ibu yang selalu marah-marah padaku?
Sementara itu adikku yang sedang dilanda bunga-bunga asmara selalu mencari dan mencuri waktu untuk bisa bersama-sama dan menyemai benih-benih cinta dengan kekekasihnya. Dan seperti biasa, dia selalu menjadikanku alasan untuk “kegiatan” barunya itu. Aku tidak setuju tapi adikku selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Hari ini aku sangat gembira karena aku akan menari di hadapan banyak orang. Sanggar tari asuhan Padma diminta mengisi acara kesenian di sebuah kantor pemerintah, dalam rangka hari pendidikan. Aku tidak memberitahu ayah, ibu bahkan adikku, karena untuk acara ini aku harus bolos sekolah. Dan kali ini, pertama kalinya aku pulang malam, larut bahkan karena saat melewati salah satu rumah tetangga aku melihat jam dinding menunjukkan hampir jam 11 malam. Selama berjalan pulang aku sudah membuat bermacam alasan yang bisa kukemukakan kepada ayah dan ibu. Alasan serasional mungkin.
Sampai di rumah aku disambut oleh tamparan ibu, bahkan sebelum aku sempat mengucapkan salam (yang rencananya akan kusambung dengan minta maaf dan alasan aku pulang malam). Aku hanya terpana, tidak mengerti, bahkan rasa sakit di pipi kiriku tidak terasa, mungkin syaraf-syaraf otakku belum bisa menerjemahkannya, karena baru pertama kali ini aku ditampar. Ibu menyemburkan serentetan kata bahwa aku benar-benar anak yang menyusahkan, kakak yang tidak baik, bla…bla…bla…. Aku benar-benar tidak mengerti. Apa ibu marah gara-gara aku menari dan pulang selarut ini?
Ayah akhirnya angkat bicara juga, walaupun tidak dengan nada tinggi, dimana adikku? Oh…tentang adikku rupanya. Ternyata adikku belum pulang. Malam ini memang malam Minggu.
Kali ini aku tidak mau mengulangi kejadian saat umur tujuh tahun, aku tidak mau berbohong dan aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku tidak tahu. Bahwa tadi aku bolos sekolah dan menari di hadapan para pejabat pemerintah. Dan selama ini adikku tidak pernah pergi denganku ketika aku belajar menari di tempat Padma.
Herannya, ayah tahu tentang Padma.
Kupikir ibuku akan senang bahwa putrinya ternyata mewarisi bakat menarinya dan bahwa putrinya yang satu ini ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan selama ini. Dan aku sedikit berharap bahwa ibu akan lebih menyukaiku.
Tapi … ibu malah semakin marah! Berapapun alasan yang kuberikan, ibu tidak akan pernah percaya lagi padaku. Bahkan ibu berkata bahwa aku benar-benar anak yang tidak berguna, anak yang tidak bisa diharapkan (atau anak yang tidak diharapkan?! Apa aku salah dengar?!), kakak yang tidak bisa menjaga adiknya. Aku benar-benar tidak mengerti … apa kesalahanku …
Aku marah, walaupun aku sadar aku tidak boleh merasa demikian. Tapi aku marah! Walaupun, tetap, aku tidak bisa membenci ibuku sendiri. Aku merasa selalu diperlakukan tidak adil, padahal aku sudah berusaha menjadi anak yang baik. Padahal aku hanya melakukan hal yang kusukai dan menari menurutku sama sekali tidak berbau negatif.
Adikku pulang dengan menangis dan berkata bahwa aku meninggalkannya. Bohong besar! Aku menatap adikku dengan pandangan tidak percaya – sejak kejadian terjatuh ke sungai dia selalu bersembunyi dan berlindung di balik kebaikanku atau kemalanganku. Aku menoleh ke arah ayahku – meminta bantuan. Tapi dia hanya diam, tidak bisa memutuskan. Ibuku bisa dibilang murka! Habis sudah…
Aku berjalan menyusuri tepi sungai yang melewati kampungku. Sekarang, sungai itu terlihat tidak terlalu besar, mungkin karena aku juga tidak sekecil dulu, dan juga apalagi sekarang sudah banyak sekali rumah-rumah baru (walaupun bisa dibilang sama sekali tidak layak) yang bertengger di sepanjang kiri dan kanannya. Semakin banyak yang datang ke kampungku, orang-orang dari mana saja, orang-orang dengan bahasa-bahasa berbeda, orang-orang yang berharap bisa mendapatkan kehidupan lebih baik setelah datang ke kampungku ini. Sungai inipun semakin terlihat sesak, makin buram dan pekat warna airnya, makin sarat dengan sampah dan kotoran. Herannya baru kali ini aku sungguh-sungguh memperhatikannya.
Hari masih gelap walaupun semburat merah tanda matahari terbit sudah mulai terlihat di langit yang sekarang sudah mulai tertutup banyak bangunan. Namun sepagi itu sudah kudengar banyak aktivitas yang sudah mulai dilakukan orang-orang di sekitarku. Mereka akan mengulang lagi rutinitas yang sudah bertahun-tahun mereka lakukan.
Aku sampai di pertemuan beberapa jalur rel kereta api. Aku sudah cukup jauh dari kampungku. Haripun sudah semakin terang. Aku hanya membawa tas sekolahku yang berisi baju seperlunya dan sedikit uang jajan yang kusisihkan setiap hari, dulu rencananya untuk membeli sepeda sehingga tidak harus jalan kaki berangkat dan pulang sekolah. Ayah, ibu dan adikku masih berada di alam mimpi mereka saat aku keluar dari rumah tanpa bersuara. Sampai kapanpun mungkin aku tidak akan pernah mengerti apa sebenarnya perasaan ibu terhadapku.
Aku berdiri sejenak di persimpangan rel dan jalan tersebut. Tidak tahu harus pergi kemana. Kudengarkan irama kehidupan di sekitarku. Dan tiba-tiba aku ingin menari …
salatiga, 4 nov’08
Bookmark and Share

di halte itu …

Rinai
Pertama kali aku melihatnya di halte bis di dekat kampusku. Siang ini sangat terik dan udara gerah – ciri khas musim kemarau. Apalagi biasanya aku pulang kuliah sore atau malam. Waktu itu dia duduk sendirian di bangku yang tersedia. Dia membaca buku. Aku datang bersama tiga teman perempuan yang sedang asyik dan rame membicarakan tentang kuliah hari ini dan mau kemana setelah ini.
Hal pertama yang membuatku melihat ke arahnya adalah keterasingannya duduk di bangku paling ujung – dia seperti berada di dunianya sendiri – tidak terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya ataupun ramai lalu lintas di depannya. Dia sangat asyik dengan apa yang dibacanya. Rambutnya yang agak ikal dan sedikit panjang tidak rapi, agak menutupi wajahnya.
“Rinai, bis kita datang!” seru salah satu teman membuyarkanku dari pandangan ke arah cowok tadi. Dengan enggan aku segera mengikuti teman-temanku, masih melihatnya sekilas dari kaca jendela bis. Dia masih menunduk, membaca …

Kikis
Hari ini capek sekali. Sudah panas dan gerah. Mana proposal skripsiku ditolak lagi. Padalah ini sudah masuk tahun kelima-ku sebagai mahasiswa. Yaa walaupun masih banyak teman satu angkatan yang bernasib sama tapi entah kenapa aku sudah merasa jenuh, ingin segera merampungkan salah satu jenjang dalam tingkatan kehidupanku ini. Apalagi Fea sudah akan diwisuda 2 bulan lagi. Rasanya aneh … malu lebih tepatnya … karena dia lulus lebih dulu. Aku merasa Fea semakin jauh …
Halte dekat kampus ini belum terlalu ramai dengan orang yang menunggu bis. Aku memilih tempat duduk paling ujung karena bisa bersandar sedikit ke dinding. Aku teringat membawa buku yang kupinjam dari Putra. Buku lama yang memang susah dicari karangan penulis dari Perancis yang sudah dialih-bahasakan ke dalam bahasa Inggris. Beberapa waktu lalu Putra – yang rajin menyatroni kawasan buku bekas – menemukannya dengan harga yang sangat miring. Ternyata menarik … karena buku itu bisa membuatku lupa sejenak dengan semua kekhawatiranku …

Rinai
Aku bangun kesiangan hari ini. Gara-garanya tadi malam nonton acara teater bersama teman-teman dan dilanjutkan dengan acara tak menentu di sebuah tempat ngopi. Aku belum pernah melewatkan kuliah apapun – dan aku juga tidak mau. Aku turun di halte biasanya – di seberang. Dan setelah bis over penumpang yang barusan kunaiki berlalu, aku melihatnya, di halte seberang. Sudah satu minggu berlalu semenjak pertemuan pertama dulu.
Kali ini dia berdiri – dan ternyata dia tinggi. Dan kali ini dia bersama dua orang temannya, cowok semua. Aku segera menyeberang bersama beberapa orang lainnya. Dan di sela-sela banyak orang tersebut aku melihatnya tertawa kecil karena mendengar apa yang dibicarakan salah seorang temannya.
Dikarenakan hal yang tak terduga tersebut akhirnya aku sukses menabrak seseorang yang berjalan di depanku. Kejadian kecil tapi aku yakin beberapa pasang mata di halte menoleh. Duh…malu…

Kikis
Sudah lama tidak pulang bareng dengan Putra dan Oyo – padahal notabene kami satu kost, satu angkatan tapi jurusan berbeda. Sama-sama belum kelar dengan skripsi tapi dengan alasan yang berlainan. Putra sibuk menjadi asisten dosen dan Oyo mungkin terlalu idealis. Sedangkan aku…hmmm mungkin terlalu asyik dengan hobi memotret-ku, yang kadang bisa membuatku melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh dalam waktu yang tak tentu.
Ada kejadian lucu hari ini di halte. Ada seorang cewek yang entah kenapa bisa menabrak orang di depannya, padahal mereka sedang menyeberang!

Rinai
Waktu menunjukkan jam 8 lewat ketika aku dan Sofi (dia teman satu kelas dan juga satu kost) pulang dari pratikum. Kami – tepatnya aku – dikejutkan oleh sosok dia yang juga menunggu di halte yang sepi. Dia sendirian dan langsung menoleh begitu kami datang. Rasanya jantungku berdesir saat itu. Walaupun gelap aku bisa melihat mukanya – cukup dekat. Sudah beberapa hari ini aku selalu mencari-cari sosoknya di halte ini – atau bahkan di kampus.
“Rinai!” panggil Sofi mengagetkanku. Rupanya dia sudah beberapa kali memanggil namaku tapi aku tidak menyahut. Aku merasa bodoh sendiri. Sofi tadi bertanya aku mau makan apa malam ini. “Jangan nasi goreng lagi ya, sudah 2 hari berturut-turut kamu makan itu” kata Sofi cepat sebelum aku menjawab. Aku sangat suka nasi goreng.
Aku tidak berani menoleh ke arah sosok dia tadi berdiri. Bis kami pun datang, meninggalkannya sendirian di halte yang sepi.
Aku selalu bertanya dalam hati siapa namanya …

Kikis
Seharian ini aku mengubur diri di perpustakaan dan mencari semua referensi yang sudah dinasehatkan dosen pembimbing. Mungkin karena terlalu bersemangat – atau dikejar keinginan untuk cepat selesai – tanpa sadar aku di sana sampai tutup.
Kuhidupkan ponselku yang sedari tadi memang sengaja kumatikan. Ada laporan beberapa missed call dan sms dari Fea, Putra dan beberapa kawan lainnya. Fea marah, karena dia tidak mau mengangkat panggilanku yang kuhitung sekitar 5 kali itu.
Sial, rutukku dalam hati. Halte ini sepi sekali. Selain aku hanya ada dua cewek yang sepertinya baru pulang kuliah. Mana lapar sekali. Pengen makan nasi goreng. Dan – seperti kebetulan – aku geli juga mendengar sedikit percakapan kedua cewek tadi, dimana yang satu sepertinya sangat suka juga nasi goreng – akut bahkan. Tapi namanya unik: Rinai. Entah kenapa aku jadi berpikir apa dia lahir waktu musim hujan.
Aku sangat suka hujan…

Rinai
Aku menahan diri untuk tidak bersorak senang ketika melihatnya di halte siang hari ini. Aku bersama dengan beberapa teman cewek. Dia sendirian, bersandar pada tiang halte dan sedang sibuk dengan ponselnya. Tapi tak lama kemudian ada beberapa cowok berseru memanggil namanya! Kikis!
Akhirnya, aku tahu namanya. Rupanya teman-temannya tadi ingin melihat foto yang diambil oleh Kikis (waduh…masih agak aneh memanggil namanya). Dia langsung mengeluarkan dari tas punggunggnya sebuah kamera hitam besar – seperti kamera profesional.
“Rinai!” seru salah seorang temanku, mengingatkanku untuk tidak melamun. Mereka heran kenapa aku selalu melamun kalau di halte bis. Aku segera mengikuti mereka dengan tidak rela. Baru kali ini aku tidak terlalu senang pergi ke Gramedia.

Kikis
Fea sudah mau membalas sms-ku dan hari ini kami janjian bertemu – malam mingguan – dan dia berkata akan menjemputku. Aku berkata bahwa aku di halte dekat kampus. Tiba-tiba, entah kenapa dengan refleks aku menoleh ke arah suara seorang cewek yang memanggil nama “Rinai!”, padahal aku sedang memperlihatkan hasil foto-foto jepretanku kepada para juniorku di klub fotografi kampus. Aku hanya melihat sosok cewek yang bernama Rinai itu dari belakang. Ternyata dia bertubuh paling kecil (baca: pendek dan imut) jika dibandingkan dengan teman-temannya.

Rinai
Aku merasa senang sekaligus sedih hari ini. Senang, karena aku bisa melihat sosoknya setelah hampir 1 minggu. Sedihnya … dia sudah memiliki kekasih. Aku dan Sofi sampai ke halte pada suatu sore. Aku dibuat tersentak oleh sosoknya yang sedang bergandengan tangan dengan seorang cewek cantik (baca: tinggi dan langsing), mereka baru akan bernajak menuju ke sebuah mobil berwarna merah muda yang diparkir tak jauh dari halte. Mungkin untuk se-per-sekian detik aku berdiri mematung. Dan Sofi menyadarinya karena dia sampai menoleh dan bertanya ada apa. “Rinai?!” ucapnya dengan heran, Sofi juga bertanya apa aku sakit karena mukaku pucat.

Kikis
Hari ini Fea mengajakku nonton – padahal sebenarnya aku hanya ingin tidur. Seharian tadi aku di perpustakaan (yang sekarang menjadi tempat favoritku), berkutat di depan komputer dan buku. Tapi Fea terlihat manis sekali hari ini. Dia menjemputku di halte dan langsung menggandeng tanganku dengan lembut. Namun … aku sempat menoleh sekilas saat kudengar nama “Rinai” diucapkan dengan nada cemas oleh temannya. Sepertinya Rinai sedang sakit…

Rinai
Musim hujan sudah mulai menyapa. Dan aku patah hati saat hujan datang. Rasanya sendu…. Sofi dan teman-teman yang lain mungkin menyadari perilakuku yang agak aneh. Tapi aku beralasan bahwa ini sindrom musim hujan. Maaf ya hujan …
Dan … sudah lama sekali aku tidak melihat sosoknya. Lebih tepatnya aku menghindari pertemuan dengannya. Kalau dulu aku menanti dan mencari-cari sosoknya, sekarang kebalikannya. Aku memilih turun dan naik bis bukan di dan dari halte yang biasanya. Halte yang penuh kenangan …
Aneh memang … aku menyukainya … walaupun hanya melihatnya dari jauh … tahu namanya hanya dari teman-temannya … sama sekali tidak tahu menahu tentangnya … tapi aku menyukainya … dan rasanya memang sakit saat tahu bahwa dia sudah mempunyai kekasih …

Kikis
Hari ini hujan turun sudah yang kedua kalinya. Di halte ini banyak kulihat payung beraneka warna – hmm … menarik. Hanya aku sendiri yang memakai jas hujan. Entah kenapa aku jadi teringat cewek yang bernama Rinai. Sudah lama aku tidak mendengar suaranya diucapkan oleh teman-temannya. Apa dia benar-benar sakit waktu itu?
Aku tersenyum sinis sendiri karena sadar bahwa aku memikirkan hal yang benar-benar aneh – tentang seorang cewek yang hanya kutahu namanya dan hanya kulihat dari belakang saja – tentang cewek yang sama sekali tak kukenal ….

Rinai
Aku berulang tahun hari ini. Ya … aku memang lahir di bulan hujan. Teman-teman kost memberikan pesta kejutan – kecil-kecilan. Make a wish Rinai …

Kikis
Pusing … Fea mengajakku ke tahap hubungan yang lebih serius. Dia – lebih tepatnya, orangtuanya – ingin kami berdua menikah. Lalu kuliahku? Dia bilang, papinya akan memberiku pekerjaan, jadi skripsi bisa diselesaikan sambil berjalan. Gampang sekali!
Aku beralasan bahwa bukan itu masalahnya … aku ingin sekali saja menyelesaikan apa yang sudah kumulai, dengan usahaku sendiri – dengan kedua tanganku sendiri.
Dan terus terang aku belum siap untuk menikah!
Fea tidak mau menerima alasanku … dia tidak mau mengerti … bahkan dia berkata bahwa aku tidak lagi mencintainya… dia berkata bahwa aku semakin jauh … Benarkah?

Rinai
Sudah 5 menit aku berada di bawah hujan (dengan payungku), menunggu Sofi yang tak kunjung datang. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok yang masuk ke bawah payungku. Dia harus menunduk dikarenakan postur tubuhnya yang tinggi. Aku hampir tidak bisa bernafas saking kagetnya.
“Sori, nebeng. Mau ke halte, kan?” tanya Kikis dengan cepat. Aku cuma bisa mengangguk, mengiyakan – padahal sebenarnya aku tidak mau ke halte!. Dan dia langsung tersenyum dan mengambil alih membawa payungku …
Ya, Tuhan … aku sudah patah hati karena dia tapi aku ingin lebih bisa mengenalnya …

Kikis
Aku sangat marah dengan Fea. Dia telah sangat menghina dan membuatku tersinggung. Ini bukan lagi soal cinta. Aku pikir sudah cukup. Dia sudah tidak bisa menerimaku. Dia menginginkan diriku yang lain – diriku yang diidealkannya. Dia berkata bahwa dia sudah tidak bisa menungguku lagi …
Saat itulah aku melihatnya – Rinai! Sosoknya dari belakang. Berdiri di bawah hujan dengan payung birunya. Dan tiba-tiba saja aku sudah berlari ke arahnya, langsung masuk ke bawah lindungan payungnya. Matanya benar-benar membulat karena terkejut melihatku.
Di halte, kami berdiri bersisihan, melihat hujan, menunggu …
Tiba-tiba aku memutuskan bahwa aku tidak mau hanya begini – teringat penggalan sebuah lirik lagu yang berbunyi: cinta tak hanya diam …
“Namaku Kikis … kamu?” – hei, walau aku sudah tahu namamu!
Tapi aku ingin lebih mengenalmu …

Salatiga, 1st November 2008

Bookmark and Share

just want to be found …


who we are
and who we want to be
it’s not the same all the time
what we say
and what we want to say
it’s not the same sometime

(as taken part from “Who we are (and who we want to be) - India - Xandria)
i just want someone will finally find me.
knows that behind those tough appearances there is a vulnerable creature.
awares of miseries in every laughter and tears in every smiles of mine.
sees a want-to-be-spoilt selfish child behind the independent hard worker.
understands the complicated thoughts and words that not supposed to be released.
readily provides his shoulders for me to lay my head and cry on.
gives me hand to bring me forward, side by side, step out from the past.
and gradually breaks the ices in me.
unlocks the warm and safe shell i hitherto reside in.



Bookmark and Share